Perang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang berani, perdamaian pun hanya dilakukan oleh orang-orang berani. Orang-orang yang menjadi tim juru runding baik dari Indonesia maupun GAM dalam perundingan Helsinki adalah termasuk orang yang berani, dan kini sebagian besar hadir di ruangan ini. Demikian disampaikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ketika memberi sambutan pada peluncuran buku “To See The Unseen Kisah di Balik Damai di Aceh” karya dr Farid Husain, Rabu, 18 April 2007, di Jakarta.
Menurut Wapres, buku tersebut merupakan kumpulan catatan Farid Husain, salah seorang juru runding pemerintah dalam perundingan dengan GAM. Isinya menceritakan sisi-sisi lain di balik proses perundingan damai yang menghasilkan nota kesepahaman damai RI-GAM di Helsinki, Finlandia.
Acara peluncuran ini malah menjadi semacam reuni bagi para perunding, karena sebagian besar hadir dalam peluncuran buku tersebut. Nampak hadir satu meja dengan Wapres adalah Hamid Awaludin (Ketua Juru Runding), Sofyan Djalil dan Farid Husain (Anggota). Sementara di meja lain nampak mantan petinggi GAM Sofyan Dawood, Malik Mahmoud, Irwandi Jusuf, juga, serta sejumlah tokoh Aceh lain.
Wapres juga mengatakan, damai harus dimulai lewat dialog dengan pihak lawan. "Karena dialog harus dengan lawan, maka harus ada orang yang cari lawan. Dialog juga harus ada hubungan-hubungan personal, sehingga muncul rasa saling percaya," katanya.
Untuk melaksanakan tugas-tugas itu, Farid Husain telah melakukan dengan baik dalam penyelesaian konflik antara Pemerintah RI dan GAM. "Pak Farid saya minta menjalin kontak. Harus berdialog langsung, tidak melalui perantara. Karena Dulu CoHA (kesepakatan penghentian permusuhan antara RI dan GAM) lewat perantara, tidak berdialog langsung. Karena itu (kita) harus mencari kontak langsung,"
Wapres mengharapkan agar semua orang yang terlibat dalam perundingan ini, dapat menuliskan dalam buku tentang apa yang dialaminya agar kelak buku tersebut menjadi referensi bagi banyak orang. (Hasbullah)